Apa
Sih Matematika SD ?
Menjadi seorang pendidik, mengajar,
guru, dan murid itu merupakan dunia besar dan dunia kecil atau dunia rendah
dunia tinggi dimana masing-masing memiliki tingkatan sendiri-sendiri. Tingkatan
paling rendah adalah kongkret atau material, kemudian forma, normatif dan yang
paling tinggi adalah spiritual. Dalam mendidik siswa pada tingkat SD dimulai
dengan yang kongkret terlebih dahulu. Setinggi-tingginya pekerjaan adalah yang
memiliki nilai ibadahnya. Sejak menjadi mahasiswa kita harus berlatih
menyadari, mengembangkan diri bahwa kegiatan apapun harus memiliki nilai ibadah
apapun agama yang dipeluknya. Misalnya dalam belajar kita membutuhkan ruangan
yang bersih agar syarat materialnya dapat dipenuhi, sehingga memiliki nilai ibadahnya.
Gambar sircle diabtraksi atau disaring
dengan saringan geometris yaitu berupa lingkaran dan gari lurus. Lingkaran dan
garis lurus jika ditarik akan menjadi model seperti diatas. Pada setiap titik
spiral memiliki 3 komponen yaitu, model rutin, mendetail atau semakin spesifik,
dan semakin membesar. Pada prinsipnya hermetika memiliki 2 hal yang penting
yaitu “menerjemahkan dan diterjemahkan”. Begitu pula dalam pendidikan, guru
mampu menerjemahkan siswa, matematika diterjemahkan oleh siswa. Sehingga, siswa
mengatakan bahwa pelajaran itu indah berasal dari dirinya sendiri bukan dari
gurunya.
Menjadi seorang guru yang inovatif
memerlukan inisiatifg, kemandirian, keberanian, daya, dan upaya dalam
mewujudkan pembelajaran yang inovatif. Sebagai mahasiswa yang memiliki
kedewasaan kita diibaratkan pada tembung
sanepa dimana kita diharapkan mampu selangkah lebih maju dari apa yang
terlihat baik pemikirannya sehingga mampu menhasilkan karya-karya yang dapat
bermanfaat bagi orang lain.dalam matematika juga memiliki model realistik
matematika.
Belajar matematika hendaknya melalui hal
yang paling bawah dulu yaitu hal-hal kongkret yang kemudian semakin lama
semakin meningkat hingga mencapai tingkat formal. Fenomena yang terjadi saat
belajar matematika ada dua kemungkinan, yang pertama jika siswa siap, maka
dalam mengikuti pembelajaran siswa akan merasa pembelajran itu sebuah hiburan
sehingga dia merasa senang. Kemungkinan yang kedua jika siswa tidak siap, maka
dalam pembelajaran siswa akan menganggapnya sebagai bencana dan siswa akan
sukar atau sulit dalam mengikiti pembelajaran tersebut.
Dalam belajar
mengenai ilmu kita membutuhkan dua hal yang berada diatas yaitu logika (analitik apiori) dan yang berada
dibawah yaitu pengalaman (sintetik
posteriori) yang kemudian disatukan atau digabungkan menjadi sintetik apiori. Sebelum pembelajaran
kita perlu melakukan interaksi awal dengan siswa mengenai hermenetika siswa
dengan lingkungan. Jika sebuah ilmu sudah tinggi maka akan muncul idealisasi
dan abstraksi. Idealisasi merupakan tahap membicarakan matematika dan abstraksi
merupakan tahap mengenai mana yang akan dibicarakan. Matematika murni merupakan
matematika yang ada dalam pikiran guru sedangkan yang ada pada siswa SD adalah
matematika kongkret. Sehingga, kita dalam mengajarkan matematika pada anak SD
kita menggunakan model matematika kongkret.
Menurut Ebbut
and Straker, 1995 matematika adalah pattern
and relation, problem solving activity, identification, dan communication. Berdasarkan hal itu maka
dapat dikatakan bahwa belajar matematika merupakan kegiatan mencari pola dan
hubungan, sebuah aktivitas mencari pemecahan masalah dengan cara identifikasi
dan komunikasi. Agar hidup kita bermakna ada 2 hal yang perlu dimiliki yaitu Accounbility (dapat dipercaya) dan Sustainability (terus). Masalah yang
dialami Indonesia dalam bidang akademik adalah masalah dimana Indonesia belum
memiliki standar akademik. Pembelajaran berbasis pear teaching adalah pembelajaran yang menekankan dari guru, untuk
guru dan oleh guru.