Kamis, 21 Maret 2013

Refleksi Matematika Pertemuan ke Tiga



Mengembangkan Pembelajaran Matematika
            Dalam pembelajaran matematika kita menggunakan dua metode yaitu metode induksi dan metode deduksi. Maksud dari metode deduktif adalah pengambilan kesimpulan yang dimulai dari yang umum menuju ke yang khusus. Pada metode deduksi kita akan belajar memahami hal-hal yang sifatnya umum kemudian kita jabarkan ke hal-hal yang sifatnya khusus. Misalnya, dalam fisika dikatakan bahwa benda padat jika dipanaskan akan memuai (peryataan umum). Besi dan seng adalah benda padat (fakta- fakta khusus). Kesimpulannya, besi dan seng, jika dipanaskan akan memuai (pernyataan khusus). Metode deduktif biasanya digunakan dalam tahap menemukan fakta baru yaitu aksiom → teorema → teori baru. Metode induksi adalah lawan dari metode deduksi, jika deduksi dari umum ke khusus maka metode induksi dari yang sifatnya khusus menuju yang umum. Kedua metode ini bersama-sama bersinergi pada pikiran manusia. Ada kalanya kapan kita menggunakan metode tersebut sesuai dengan tempa, waktu dan kondisi. Kedua metode ini bersifat dinamis, saling melengkapi dalam menemukan pola.
            Efektif atau tidak jika pada saat siswa berdiskusi, guru berceramah mengenai materi? Sudah sepantasnya kita tahu mengenai sopan santun, jika kita sudah meminta siswa berdiskusi biarkan siswa berdiskusi, berilah siswa waktu untuk menyelesaikan diskusinya. Sopan santunlah pada matematika, siswa, dan pembelajaran. Pelayanan yang diberikan guru pada saat diskusi, jika guru member pelayanan terhadap satu kelompok jangan sampai yang lain dengar. Pembelajaran hendaknya diterapkan sesuai dengan tempatnya. Jangan kemudian pada siswa Sekolah Dasar digunakan pembelajaran melalui blog. Guru seharusnya mampu menerapkan bagaimana pembelajaran itu bias dibuat seinovatif mungkin, jangan kemudian menyalahkan siswanya, karena siswa tidak pernah salah yang salah adalah orang yang lebih dewasa termasuk guru atau orang tuanya.
            Pembelajaran yang inovatif, dapat dilakukan dengan cara diskusi, online, latihan, kerja praktek dan refleksi. Semua itu disesuaikan dengan kondisi siswanya. Permasalahn pada pembelajaran matematika ada pada gurunya, banyak pada teori atau bahkan pada RPP guru menggunakan metode yang inovatif, namun metode belum dilaksanakan sesuai dengan kriterianya. Pendidikan di Indonesia ada beberapa faktor, diantaranya adalah kebijakan pemerintah. Dalam kebijakan pemerintah terdapat unsure-unsur diantaranya kurikulum dan guru. Guru masih dibedakan lagi menjadi guru yang hakiki dan guru PNS atau hanya sebagai pelaksana saja. Guru yang hakiki adalah guru yang benar-benar menyerahkan pengambdiannya untuk melayani siswanya, sedangkan guru PNS hanya akan menjalankan tugasnya sebagai seorang PNS saja atau bias dikatan hanya mengajar siswanya sebagai pelaksana kebijakan pemerintah saja.
            Intuisi perlu dikembangkan, terutama pada siswa Sekolad Dasar atau SD. Intuisi adalah sebuah pemahaman yang tidak bias dijelaskan dan didefinisikan. Intuisi dapat dikembangkan melalui komunikasi. Material → formal → normatif → spiritusl. Pengertian panjang merupakan intuisi, intuisi tidak hanya untuk anak kecil saja, namun intuisi dibutuhkan setiap orang. Contoh intuisi adalah ilham atau pencerahan. s
Realistik belajar matematika berawal dari matematika kongkret → model kongkret → model formal → formal. Mengajar matematika menggunakan cara formal itu tidak sopan. Ilmu akan lebih bermanfaat jika dibagikan kepada orang lain. Ilmu dari diri sendiri akan bertambah jika diberikan pada orang lain, kemuadian menuju jaringan sistemik → Nasional →Internasional→ karya ilmiah dimuat pada jurnal Internasional → dan terakhir mampu mendapatkan Nobel. Tahapan perkembangan intuisi:           Hati
Pikiran
Kata-kata/ tulisan
Tindakan
            Belajar matematika melalui logika atau penalaran disebut analitik a priori dan melalui pengamatan dapat dikatan sebagai sintetik posteriori dan sintetik a priori. Apriori berati belajar dari pikiran atau logika manusia dimana manusia dapat memikirkan apa yang belum terjadi. Sedangkan, sintetik posteriori berarti berasal dari pengalaman manusia, dimana manusia mampu memikirkan jika sudah terjadi. Perjanjian saja dengan tidak memperdulikan manfaatnya disebut analitik.
            IKKT adalah sebutan untuk indikator tambahan. Usaha mengembangkan metode dapat dilakukan dengan sifat koherensi dan korespodensi. Bersifat koherensi artinya, dikatakan benar jika berdasarkan kelompok janji itu disepakati, dimana janji itu bersifat kosisten sehingga dapat dikatakan benar jika disetujui atau disepakati oleh kelompok itu. Sedangkan korespodensi (sekolah), mencolokkan pada keadaan. Misalnya, apakah 7 lebih besar dari 2? Kebenaran dari jawaban ini tidak bias dijamin.
            Ilmu itu bersifat kontradiktif, jika murni (bebas ruang dan waktu) itu akan dikatakan benar. Misalnya:            4 = 4
                                         
      Kontradiktif
Karena, pada saat menulis angka 4 yang pertama belum tentu sama dengan saat menulis angka 4 yang kedua, itulah yang dikatakan Imanuel Kant.
Refleksi pembelajaran matematika SD 2
pertemuan ke empat

Pembelajaran Matematika di Jepang


Dalam proses pembelajaran di Jepang menggunakan team teching, sehingga dalam kelas membutuhkan 2 orang guru,dimana kedua berperan aktif dalam melayani siswa-siswa dalam belajar. Sebelum guru masuk ke pembelajaran guru melakukan apersepsi terlebih dahulu, kegiatan ini biasanya berisi tentang menghubungkan materi yang akan dipelajari dengan pengalaman siswa dengan tujuan siswa paham mengenai apa yang akan dipelajarinya nanti. Guru menggunakan LKS atau hand out untuk membantu siswa dalam belajar. Sebelum disuruh mengerjakan LKS guru memberikan penjelasan singkat mengenai fungsi LKS tersebut.
Guru menngunakan metode diskusi dalam menyampaikan materinya. Dalam hal ini siswa diberikan waktu untuk berdiskusi, untuk mengembangkan kemampuan dan kecerdasan olah pikir terhadap materi yang dipelajarinya. Siswa menemukan pola-pola matematika dengan caranya sendiri jadi bukan guru yang langsung menyampaikan pola-pola pada siswa. Guru hanya menjalankan perannya sebagai fasilitator siswa dalam berdiskusi untuk memecahkan masalah konsep-konsep yang belum dipahami dan sesuai dengan kebutuhan siswanya. Jika ada siswa yang kesulitan guru akan menjelaskan secara internal pada satu kelompok itu saja, sehingga kemungkinan siswa menangkap lebih besar.
Metode diskusi ini dikemas sedemikian rupa sehingga materi pembelajaran itu menarik dan mampu membuat siswa memahami lebih dalam. Siswa tidak hanya mampu menyelesaikan persoalan dari soal yang diberikan guru namin, juga mampu untuk memahami seluk beluk soal tersebut dan mampu menganalisis permasalahan yang ada pada soal tersebut.
Setelah siswa selesai melakukan diskusi, siswa menyampaikan hasil diskusinya di depan. Siswa tersebut menjelaskan selayaknya seorang guru. Dia menjelaskan apa yang dipahaminya kepada teman-temannya, yang sangat mengagumkan siswa tidak hanya mampu menjelaskan, namun juga menjawab pertanyaan temannya yang belum jelas. Dengan metode ini siswa mampu mengembangkan rasa percaya diri, berani berpendapat, sehingga intuisi siswa mampu berkembang. Dalam metode ini apersepsi berupa pujian juga dilakukan untuk memotivasi anak supaya lebih semangat dan giat dalam belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar