Mengembangkan
Pembelajaran Matematika
Dalam
pembelajaran matematika kita menggunakan dua metode yaitu metode induksi dan
metode deduksi. Maksud dari metode deduktif adalah pengambilan kesimpulan yang
dimulai dari yang umum menuju ke yang khusus. Pada metode deduksi kita akan
belajar memahami hal-hal yang sifatnya umum kemudian kita jabarkan ke hal-hal
yang sifatnya khusus. Misalnya, dalam fisika dikatakan bahwa benda padat jika
dipanaskan akan memuai (peryataan umum). Besi dan seng adalah benda padat
(fakta- fakta khusus). Kesimpulannya, besi dan seng, jika dipanaskan akan
memuai (pernyataan khusus). Metode deduktif biasanya digunakan dalam tahap menemukan
fakta baru yaitu aksiom → teorema → teori baru. Metode induksi adalah lawan
dari metode deduksi, jika deduksi dari umum ke khusus maka metode induksi dari
yang sifatnya khusus menuju yang umum. Kedua metode ini bersama-sama bersinergi
pada pikiran manusia. Ada kalanya kapan kita menggunakan metode tersebut sesuai
dengan tempa, waktu dan kondisi. Kedua metode ini bersifat dinamis, saling
melengkapi dalam menemukan pola.
Efektif
atau tidak jika pada saat siswa berdiskusi, guru berceramah mengenai materi?
Sudah sepantasnya kita tahu mengenai sopan santun, jika kita sudah meminta
siswa berdiskusi biarkan siswa berdiskusi, berilah siswa waktu untuk
menyelesaikan diskusinya. Sopan santunlah pada matematika, siswa, dan
pembelajaran. Pelayanan yang diberikan guru pada saat diskusi, jika guru member
pelayanan terhadap satu kelompok jangan sampai yang lain dengar. Pembelajaran
hendaknya diterapkan sesuai dengan tempatnya. Jangan kemudian pada siswa
Sekolah Dasar digunakan pembelajaran melalui blog. Guru seharusnya mampu
menerapkan bagaimana pembelajaran itu bias dibuat seinovatif mungkin, jangan
kemudian menyalahkan siswanya, karena siswa tidak pernah salah yang salah
adalah orang yang lebih dewasa termasuk guru atau orang tuanya.
Pembelajaran
yang inovatif, dapat dilakukan dengan cara diskusi, online, latihan, kerja
praktek dan refleksi. Semua itu disesuaikan dengan kondisi siswanya.
Permasalahn pada pembelajaran matematika ada pada gurunya, banyak pada teori
atau bahkan pada RPP guru menggunakan metode yang inovatif, namun metode belum
dilaksanakan sesuai dengan kriterianya. Pendidikan di Indonesia ada beberapa faktor,
diantaranya adalah kebijakan pemerintah. Dalam kebijakan pemerintah terdapat
unsure-unsur diantaranya kurikulum dan guru. Guru masih dibedakan lagi menjadi
guru yang hakiki dan guru PNS atau hanya sebagai pelaksana saja. Guru yang
hakiki adalah guru yang benar-benar menyerahkan pengambdiannya untuk melayani
siswanya, sedangkan guru PNS hanya akan menjalankan tugasnya sebagai seorang
PNS saja atau bias dikatan hanya mengajar siswanya sebagai pelaksana kebijakan
pemerintah saja.
Intuisi
perlu dikembangkan, terutama pada siswa Sekolad Dasar atau SD. Intuisi adalah
sebuah pemahaman yang tidak bias dijelaskan dan didefinisikan. Intuisi dapat
dikembangkan melalui komunikasi. Material → formal → normatif → spiritusl.
Pengertian panjang merupakan intuisi, intuisi tidak hanya untuk anak kecil
saja, namun intuisi dibutuhkan setiap orang. Contoh intuisi adalah ilham atau
pencerahan. s
Realistik belajar matematika berawal dari matematika
kongkret → model kongkret → model formal → formal. Mengajar matematika
menggunakan cara formal itu tidak sopan. Ilmu akan lebih bermanfaat jika
dibagikan kepada orang lain. Ilmu dari diri sendiri akan bertambah jika diberikan
pada orang lain, kemuadian menuju jaringan sistemik → Nasional →Internasional→
karya ilmiah dimuat pada jurnal Internasional → dan terakhir mampu mendapatkan
Nobel. Tahapan perkembangan intuisi:
Hati
↓
Pikiran
↓
Kata-kata/
tulisan
↓
Tindakan
Belajar
matematika melalui logika atau penalaran disebut analitik a priori dan melalui
pengamatan dapat dikatan sebagai sintetik posteriori dan sintetik a priori.
Apriori berati belajar dari pikiran atau logika manusia dimana manusia dapat
memikirkan apa yang belum terjadi. Sedangkan, sintetik posteriori berarti
berasal dari pengalaman manusia, dimana manusia mampu memikirkan jika sudah
terjadi. Perjanjian saja dengan tidak memperdulikan manfaatnya disebut
analitik.
IKKT
adalah sebutan untuk indikator tambahan. Usaha mengembangkan metode dapat
dilakukan dengan sifat koherensi dan korespodensi. Bersifat koherensi artinya,
dikatakan benar jika berdasarkan kelompok janji itu disepakati, dimana janji
itu bersifat kosisten sehingga dapat dikatakan benar jika disetujui atau
disepakati oleh kelompok itu. Sedangkan korespodensi (sekolah), mencolokkan
pada keadaan. Misalnya, apakah 7 lebih besar dari 2?
Kebenaran dari jawaban ini tidak bias dijamin.
Kontradiktif
Karena, pada saat menulis angka 4 yang pertama belum
tentu sama dengan saat menulis angka 4 yang kedua, itulah yang dikatakan
Imanuel Kant.
Refleksi
pembelajaran matematika SD 2
pertemuan
ke empat
Pembelajaran
Matematika di Jepang
Dalam proses pembelajaran di Jepang menggunakan team teching, sehingga dalam kelas membutuhkan
2 orang guru,dimana kedua berperan aktif dalam melayani siswa-siswa dalam
belajar. Sebelum guru masuk ke pembelajaran guru melakukan apersepsi terlebih
dahulu, kegiatan ini biasanya berisi tentang menghubungkan materi yang akan
dipelajari dengan pengalaman siswa dengan tujuan siswa paham mengenai apa yang
akan dipelajarinya nanti. Guru menggunakan LKS atau hand out untuk membantu siswa dalam belajar. Sebelum disuruh
mengerjakan LKS guru memberikan penjelasan singkat mengenai fungsi LKS
tersebut.
Guru menngunakan metode diskusi dalam menyampaikan
materinya. Dalam hal ini siswa diberikan waktu untuk berdiskusi, untuk
mengembangkan kemampuan dan kecerdasan olah pikir terhadap materi yang
dipelajarinya. Siswa menemukan pola-pola matematika dengan caranya sendiri jadi
bukan guru yang langsung menyampaikan pola-pola pada siswa. Guru hanya
menjalankan perannya sebagai fasilitator siswa dalam berdiskusi untuk
memecahkan masalah konsep-konsep yang belum dipahami dan sesuai dengan
kebutuhan siswanya. Jika ada siswa yang kesulitan guru akan menjelaskan secara
internal pada satu kelompok itu saja, sehingga kemungkinan siswa menangkap
lebih besar.
Metode diskusi ini dikemas sedemikian rupa sehingga
materi pembelajaran itu menarik dan mampu membuat siswa memahami lebih dalam. Siswa
tidak hanya mampu menyelesaikan persoalan dari soal yang diberikan guru namin,
juga mampu untuk memahami seluk beluk soal tersebut dan mampu menganalisis
permasalahan yang ada pada soal tersebut.
Setelah siswa selesai melakukan diskusi, siswa
menyampaikan hasil diskusinya di depan. Siswa tersebut menjelaskan selayaknya
seorang guru. Dia menjelaskan apa yang dipahaminya kepada teman-temannya, yang
sangat mengagumkan siswa tidak hanya mampu menjelaskan, namun juga menjawab
pertanyaan temannya yang belum jelas. Dengan metode ini siswa mampu
mengembangkan rasa percaya diri, berani berpendapat, sehingga intuisi siswa
mampu berkembang. Dalam metode ini apersepsi berupa pujian juga dilakukan untuk
memotivasi anak supaya lebih semangat dan giat dalam belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar