Kamis, 21 Maret 2013

Refleksi Pembelajaran Matematika 4


Apa Sih Matematika SD ?
Menjadi seorang pendidik, mengajar, guru, dan murid itu merupakan dunia besar dan dunia kecil atau dunia rendah dunia tinggi dimana masing-masing memiliki tingkatan sendiri-sendiri. Tingkatan paling rendah adalah kongkret atau material, kemudian forma, normatif dan yang paling tinggi adalah spiritual. Dalam mendidik siswa pada tingkat SD dimulai dengan yang kongkret terlebih dahulu. Setinggi-tingginya pekerjaan adalah yang memiliki nilai ibadahnya. Sejak menjadi mahasiswa kita harus berlatih menyadari, mengembangkan diri bahwa kegiatan apapun harus memiliki nilai ibadah apapun agama yang dipeluknya. Misalnya dalam belajar kita membutuhkan ruangan yang bersih agar syarat materialnya dapat dipenuhi, sehingga memiliki nilai ibadahnya.
      Gambar sircle diabtraksi atau disaring dengan saringan geometris yaitu berupa lingkaran dan gari lurus. Lingkaran dan garis lurus jika ditarik akan menjadi model seperti diatas. Pada setiap titik spiral memiliki 3 komponen yaitu, model rutin, mendetail atau semakin spesifik, dan semakin membesar. Pada prinsipnya hermetika memiliki 2 hal yang penting yaitu “menerjemahkan dan diterjemahkan”. Begitu pula dalam pendidikan, guru mampu menerjemahkan siswa, matematika diterjemahkan oleh siswa. Sehingga, siswa mengatakan bahwa pelajaran itu indah berasal dari dirinya sendiri bukan dari gurunya.
      Menjadi seorang guru yang inovatif memerlukan inisiatifg, kemandirian, keberanian, daya, dan upaya dalam mewujudkan pembelajaran yang inovatif. Sebagai mahasiswa yang memiliki kedewasaan kita diibaratkan pada tembung sanepa dimana kita diharapkan mampu selangkah lebih maju dari apa yang terlihat baik pemikirannya sehingga mampu menhasilkan karya-karya yang dapat bermanfaat bagi orang lain.dalam matematika juga memiliki model realistik matematika.
      Belajar matematika hendaknya melalui hal yang paling bawah dulu yaitu hal-hal kongkret yang kemudian semakin lama semakin meningkat hingga mencapai tingkat formal. Fenomena yang terjadi saat belajar matematika ada dua kemungkinan, yang pertama jika siswa siap, maka dalam mengikuti pembelajaran siswa akan merasa pembelajran itu sebuah hiburan sehingga dia merasa senang. Kemungkinan yang kedua jika siswa tidak siap, maka dalam pembelajaran siswa akan menganggapnya sebagai bencana dan siswa akan sukar atau sulit dalam mengikiti pembelajaran tersebut.
Dalam belajar mengenai ilmu kita membutuhkan dua hal yang berada diatas yaitu logika (analitik apiori) dan yang berada dibawah yaitu pengalaman (sintetik posteriori) yang kemudian disatukan atau digabungkan menjadi sintetik apiori. Sebelum pembelajaran kita perlu melakukan interaksi awal dengan siswa mengenai hermenetika siswa dengan lingkungan. Jika sebuah ilmu sudah tinggi maka akan muncul idealisasi dan abstraksi. Idealisasi merupakan tahap membicarakan matematika dan abstraksi merupakan tahap mengenai mana yang akan dibicarakan. Matematika murni merupakan matematika yang ada dalam pikiran guru sedangkan yang ada pada siswa SD adalah matematika kongkret. Sehingga, kita dalam mengajarkan matematika pada anak SD kita menggunakan model matematika kongkret.
Menurut Ebbut and Straker, 1995 matematika adalah pattern and relation, problem solving activity, identification, dan communication. Berdasarkan hal itu maka dapat dikatakan bahwa belajar matematika merupakan kegiatan mencari pola dan hubungan, sebuah aktivitas mencari pemecahan masalah dengan cara identifikasi dan komunikasi. Agar hidup kita bermakna ada 2 hal yang perlu dimiliki yaitu Accounbility (dapat dipercaya) dan Sustainability (terus). Masalah yang dialami Indonesia dalam bidang akademik adalah masalah dimana Indonesia belum memiliki standar akademik. Pembelajaran berbasis pear teaching adalah pembelajaran yang menekankan dari guru, untuk guru dan oleh guru.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar