Kamis, 21 Februari 2013

Refleksi Problem Utama Inovasi Pembelajaran (Matematka) pada PLPG dan Sertifikasi Guru



Tidak dipungkiri untuk merubah pola pembelajaran dari yang berpusat pada guru menjadi pola yang berpusat pada siswa memang sulit. Namun, sudah selayaknya kita sebagai calon guru sadar akan hal itu dan segera mungkin merubah pola seperti itu. Kalaupun mengalami kesulitan seperti kita dapat berkonsultasi pada dosen pembimbing maupun dosen yang paham mengenai hal tersebut. Jadi, peran supervisor atau pemimbing sangat dibutuhkan untuk seorang guru maupun calon guru untuk menjadi guru yang inovatif serta mampu memberdayakan siswa. Disini PLPG dan Pendidikan Profesi cukup memberikan peran penting untuk mewujudkan pola pengajaran yang mampu memberdayakan siswa.

Refleksi Pembelajaran Matematika Seperti Apa yang Kita Harapkan di SD?

Kalau dari pemahaman saya, cara untuk belajar matematika pada siswa SD itu melalui hal-hal yang sifatnya kongkret dahulu dan hal-hal yang berada dilingkungan siswa. Dengan hal ini siswa akan memiliki gambaran mengenai materi apa yang disampaikan. Memang benar, seyogyanya guru sebelum menyampaikan materi pada siswa hendaknya guru sudah paham betul mengenai materi yang akan disampaikannya. Hal ini sangat penting untuk kelancaran siswa dalam belajar. Bagaimana guru bisa mengarahkan dam membimbing siswanya jika gurunya saja tidak paham benar mengenai materi yang disampaikannya. Pada intinya menurut Zulkardi langkah-langkah pembelajaran matematika adalah mempersiapkan materi yang akan kita sampaikan dengan matang-matang , ajaklah siswa belajar dari hal-hal yang kongkret atau yang berada disekitar siswa, biarkan siswa berdiskusi dan menyampaikan hasil diskusinya dengan bimbingan kita, ajaklah siswa untuk mencari atau menyimpulkan mengenai hal-hal yang mereka diskusikan. Namun, semua itu kembali lagi pada guru itu sendiri, jika guru berusaha sebaik mungkin untuk membimbing dan mendidik siswa insyaallah hasi yang diperoleh juga baik.

Selasa, 19 Februari 2013

REFLEKSI PERMINTAAN GURU PADA GURUNYA



 
Setelah membaca elegi permintaan murid cerdas ini, kita jadi semakin mengerti mengenai hakikat membimbing. Guru pada hakikat membimbing adalah selalu memberdayakan siswa pada setiap kegiatan pembelajarannya. Namun, pada kenyataannya banyak guru yang hanya memberikan materi dengan metode ceramah melulu. Metode yang demikian ini disebut metode tradisional. Dalam metode ini siswa sulit untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri siswa, karena dalam metode ini seakan-akan siswa hanyalah sebuah obyek yang bisa dijadikan apapun oleh gurunya. Metode yang seperti ini hendaknya segera diganti dengan metode inovatif yang mampu memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Metode inovatif dapat dilakukan dengan cara, guru selalu melibatkan siswanya dalam kegiatan pengajarannya, memberikan sumber-sumber belajar yang tidak hanya berpedoman pada buku salah satunya dengan memberikan LKS dan memberikan pembelajaran yang beranekaragam (variatif) agar tidak membosankan.
Selain itu, perlakukanlah siswa sebagaimana merekalah yang menjadi center atau pusat dari pembelajaran itu. Jangan jadikan mereka sebagai pelengkap dalam pembelajaran kita, jangan pula perlakukan siswa seolah-olah mereka tidak tau mengenai apa yang kita sampaikan. Kemudian jangan pernah memaksakan siswa untuk suka terhadap pelajaran yang kita sampaikan karena perasaan suka itu hanya bisa tumbuh dari dalam siswa itu sendiri. Guru juga diharapkan mampu bersifat demokratis dan adil dalam menghadapi siswa yang yang beranekaragam. Demokratis yang dimaksud adalah meperlakukan siswa secara wajar dan sama baik siswa yang pandai maupun siswa yang kurang pandai.